Proxsis HR: Sinergi HR dan K3 Tekan 80 Persen Kecelakaan Akibat Perilaku Tidak Aman

5 Menit Membaca
Webinar Safe by Habit Strong by Culture tentang budaya keselamatan kerja

Sebanyak 80 persen kecelakaan kerja disebabkan oleh perilaku tidak aman (unsafe behavior). Data ini dirilis National Safety Council pada 2023. Sisanya berasal dari kegagalan teknis. Untuk mengatasi hal itu, Proxsis HR menggelar webinar bertajuk “Safe by Habit, Strong by Culture”.

Webinar ini dilaksanakan pada Rabu (25/06/2025). Waktu pelaksanaan mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Kegiatan berlangsung melalui Zoom Meeting.

Proxsis HR menilai banyak perusahaan telah memiliki kebijakan K3 yang komprehensif. Namun implementasinya sering terhambat. Hambatan pertama adalah kurangnya kolaborasi antara HR dan tim K3. Kebijakan keselamatan tidak terintegrasi dengan sistem sumber daya manusia.

Hambatan kedua, budaya keselamatan hanya di atas kertas. Karyawan menganggap K3 sekadar kepatuhan, bukan kebutuhan. Hambatan ketiga, kesulitan mengukur perilaku aman. Perusahaan tidak memiliki alat untuk memantau perilaku keselamatan secara objektif.

Budaya keselamatan yang kuat tidak bisa dibentuk hanya dari atas ke bawah. Sinergi antara fungsi HR dan tim K3 sangat diperlukan. HR berperan strategis dalam membentuk nilai, sikap, dan keterlibatan karyawan. Peran itu dilakukan melalui sistem komunikasi, pelatihan, dan penghargaan yang selaras dengan tujuan keselamatan.

Tim K3 memainkan peran penting dalam membumikan kebijakan keselamatan. Mereka menerjemahkan kebijakan ke dalam praktik nyata di lapangan. Proxsis HR menghadirkan program “Safe by Habit, Strong by Culture” sebagai solusi.

Program ini dirancang untuk empat tujuan utama. Pertama, meningkatkan kesadaran akan pentingnya integrasi peran HR dan K3. Kedua, membekali praktisi HR dan K3 dengan pendekatan praktis untuk mendorong perilaku kerja aman. Pendekatan itu menggunakan keterlibatan karyawan dan metode Behaviour Based Safety (BBS).

Ketiga, mendorong sinergi lintas fungsi antara HR dan tim K3. Keempat, menyediakan forum diskusi dan berbagi praktik terbaik antar peserta dan narasumber.

Sasaran peserta program ini bersifat umum dengan jumlah 25 orang. Target peserta adalah profesional HR yang ingin mengintegrasikan K3 dalam kebijakan SDM. Juga petugas K3 atau HSE Officers yang ingin memperkuat pendekatan berbasis perilaku.

Manajer atau pemimpin operasional yang ingin membangun budaya keselamatan di timnya juga menjadi sasaran. Perusahaan klien Proxsis HR pun dapat mengikuti sebagai layanan nilai tambah.

Program ini memberikan sejumlah dampak. Peserta memahami pentingnya safety behavior assessment dalam membangun budaya K3. Mereka juga memahami peran sinergi HR dan K3 dalam menciptakan kebiasaan kerja aman. Contohnya, integrasi indikator kinerja keselamatan dalam sistem SDM.

Peserta dari tim HR menyadari bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab K3. Keselamatan bisa diintegrasikan ke rekrutmen, pelatihan, dan sistem penghargaan. Peserta dari tim K3 belajar pendekatan perubahan perilaku, bukan hanya kepatuhan.

Hasil lain yang diharapkan adalah penurunan insiden hampir celaka atau near-miss incidents. Perilaku berisiko terdeteksi lebih dini. Partisipasi karyawan dalam program pelaporan bahaya juga meningkat karena mereka merasa dilibatkan.

Septriadi Ginting, selaku HC Development Specialist di PT Angkasa Pura Indonesia II, memberi kesan. “Bagi saya sih materi malam ini sangat menarik sekali dan bagus dan itu langsung ngena pada tujuan perusahaan sebenarnya mba, karena itu adalah isu-isu perusahaan yang lagi trend saat ini,” ujarnya.

Ia mengajak peserta lain yang memiliki kendala untuk menghubungi Proxsis. “Jadi pesan saya, silahkan teman-teman yg ada di member ini, yg punya kendala apa, bisa menghubungi proxsis, nantikan bisa di guide oleh narasumber kita,” kata Septriadi.

Ia mengaku telah melakukan hal serupa. “Dan itu yang sudah saya lakukan juga sebenernya, mungkin ini hanya masukan aja gitu kita bisa berkelanjutan kedepannya melalui proxsis semua bisa ada solusi,” tuturnya.

Proxsis HR menawarkan konsultasi gratis selama 30 hingga 45 menit. Calon peserta juga bisa mengunduh studi kasus lengkap. Pendaftaran program serupa untuk batch berikutnya sudah tersedia. Formulir minat kolaborasi dapat diakses melalui tautan tertentu.

Rate this post
Bagikan artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.