Learning & Competency

Training terus berjalan
Gap kinerjanya tidak menutup

Masalahnya hampir tidak pernah ada di konten training. Masalahnya ada di sistem — tidak ada standar kompetensi yang jelas, tidak ada analisis gap yang sistematis, dan tidak ada yang memastikan pembelajaran benar-benar terjadi setelah program selesai.

Pain Point

Kondisi yang Paling Sering Kami Temui

Budget training besar. Dampaknya tidak bisa ditunjukkan

Setiap tahun program berjalan, anggaran terpakai, laporan kehadiran ada. Tapi saat direksi atau Finance tanya dampaknya ke kinerja, HR tidak punya jawaban yang tepat. L&D selalu jadi yang pertama dipotong saat efisiensi.

Masalah yang sama muncul terus di performance review

Produktivitas tidak konsisten, kualitas kerja di bawah harapan — dan ini bukan pertama kalinya. Vendor menyalahkan engagement peserta. Manajer menyalahkan konten. HR terjepit di tengah tanpa data untuk memperbaiki situasi.

Tidak ada standar yang jelas untuk rekrutmen, penilaian, dan pengembangan

Pemanfaatan competency framework belum optimal. Manajer menilai berdasarkan intuisi. Training ditentukan dari katalog vendor, bukan dari gap yang teridentifikasi.

Yang sering diyakini

"Training yang bagus hanya dinilai dari antusiasme peserta."

Yang sebenarnya terjadi

Antusiasme peserta hanya berbuah kepuasan di saat training. Tidak ada perubahan kinerja yang nyata.

Yang sering diyakini

"Competency framework cukup dibuat sekali dan berlaku untuk selamanya."

Yang sebenarnya terjadi

Strategi bisnis berubah, skill yang dibutuhkan ikut berubah. Framework yang dibuat tiga tahun lalu dan tidak pernah direview sudah tidak relevan.

Problem

Kapan Waktu yang Tepat untuk Membenahi

RELEVAN UNTUK ANDA JIKA…
  • Ada gap kinerja yang terus berulang di performance review, tapi belum ada yang tahu penyebab pastinya.
  • Budget L&D sedang dievaluasi atau dipertanyakan direksi — ini justru momen terbaik untuk masuk dengan sistem.
  • Perusahaan sedang transformasi, ekspansi, atau masuk lini bisnis baru.
  • Rekrutmen dan promosi masih berjalan tanpa kriteria yang jelas dan konsisten.
REVIEW DULU JIKA…
  • Struktur jabatan belum stabil — framework dibangun per job family. Kalau jabatannya masih berubah, framework akan perlu direvisi terus. → Kami bisa menstabilkan struktur jabatan dulu.
  • Masalah utamanya bukan kompetensi, tapi proses atau sistem kerja — training tidak akan menyelesaikan alat kerja yang buruk. → Diskusikan untuk diagnosis yang lebih tepat.
  • Manajemen senior tidak mau terlibat sama sekali — 70% pembelajaran terjadi di tempat kerja Ini yang perlu dikomunikasikan ke direksi dulu.

Study Case

Budget Sama → Sistem Berbeda = Hasil Berbeda

SITUASI

Rp 2 miliar dialokasikan setiap tahun untuk L&D. Rata-rata 3-4 training per karyawan per tahun. Tapi performance review terus menunjukkan masalah yang sama: konsistensi analisis kredit di level officer tidak merata, dan kemampuan komunikasi nasabah dianggap lemah.

KOMPLIKASI

CFO mempertanyakan efektivitas budget L&D di rapat Q3. HR tidak punya data yang menghubungkan training dengan perbaikan kinerja. Provider training menyalahkan engagement. Manajer menyalahkan materi training. HR terjepit tanpa senjata.

YANG DIKERJAKAN

Dimulai dari TNA sistematis – analisis gap antara profil ideal per jabatan vs kondisi aktual. Competency framework untuk 5 job family kritikal. Program L&D dirancang ulang: lebih sedikit, lebih dalam, lebih terhubung ke konteks nyata. Sistem evaluasi dampak dari awal.

Dampak setelah konsultasi

Enam bulan setelah implementasi, skor konsistensi analisis kredit di level officer naik 18%. HR masuk rapat anggaran berikutnya dengan data perubahan perilaku kerja.

How it works

Bagaimana Kami Bekerja

Kami mulai dari pemahaman konteks dulu – bukan dari penawaran program.

‎ 1‎‎ ‎

Diagnosis

Memahami model bisnis, tantangan kinerja, dan kondisi sistem HR yang sudah ada melalui wawancara. Ini yang menentukan dari mana harus dimulai.

‎ 2‎ ‎

Framework & analisis gap

Membangun competency framework per job family dengan behavioral indicator spesifik, lalu TNA untuk identifikasi gap dan prioritas pengembangan.

‎ 3‎ ‎

Rancang sistem pembelajaran

Strategi dan learning journey per peran, pendekatan 70-20-10. Termasuk sistem evaluasi dampak (Kirkpatrick L3 & L4) yang bisa dijalankan mandiri.

‎ 4‎ ‎

Handover & integrasi

Framework terintegrasi ke rekrutmen, performance review, IDP, succession planning. Tim Anda bisa menjalankannya secara mandiri setelah engagement.

Output

Apa yang Kami Bangun Bersama Anda

Tiga komponen ini bisa dijalankan terpisah atau sebagai satu sistem — tergantung kondisi awal Anda.

FONDASI

Competency Framework Design

Membangun standar kompetensi per job family — core, technical, dan managerial — lengkap dengan behavioral indicator yang spesifik. Setiap kompetensi harus bisa menjawab: kalau seseorang kompeten di sini, KPI bisnis mana yang ikut naik?

Yang Anda terima

Competency dictionary · Behavioral indicator per level · Panduan integrasi ke proses HR

DIAGNOSIS

Training Needs Analysis

Identifikasi gap kompetensi secara sistematis — profil ideal per jabatan vs kondisi aktual karyawan. Hasilnya bukan daftar topik training, tapi prioritas pengembangan yang bisa dipertanggungjawabkan ke direksi dan Finance.

Yang Anda terima

Gap analysis report · Learning priority matrix

SISTEM

L&D Strategy & Curriculum Design

Strategi dan kurikulum pembelajaran per peran, pendekatan 70-20-10. Termasuk sistem evaluasi dampak yang bisa dijalankan mandiri — sehingga program berikutnya bisa dibuktikan nilainya.

Yang Anda terima

L&D strategy document · Learning journey per job family · Evaluation framework

Our Method

Yang Membedakan Pendekatan Kami

01

Kami bangun sistem — bukan menyelenggarakan event

Banyak vendor bisa deliver training yang bagus. Yang membedakan kami: memastikan pembelajaran terus terjadi setelah program selesai — lewat manajer lini, peer learning, dan on-the-job application yang dirancang sejak awal, bukan sebagai tambahan.

02

Kompetensi yang bisa ditrace ke KPI bisnis — bukan sekedar keinginan karyawan

Setiap kompetensi yang kami rancang harus bisa menjawab: kalau seseorang kompeten di area ini, KPI bisnis mana yang ikut naik? Kalau tidak bisa dijawab, kami tidak memasukkannya ke framework.

03

Output yang langsung terintegrasi ke proses HR — bukan dokumen untuk disimpan

Framework kompetensi yang kami bangun dirancang agar langsung bisa dipakai dalam rekrutmen, performance review, IDP, dan succession planning. Setelah engagement selesai, Anda tidak bergantung pada kami.

FAQ

Pengerjaan tergantung dari permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan, bisa berkisar antara 3 – 6 bulan.

Ya, sangat memungkinkan itu dilakukan, kembali lagi tergantung pada permasalahan yang dihadapi perusahaan.

Vendor training merancang dan menyelenggarakan program. Kami merancang sistem: mulai dari standar kompetensi, identifikasi gap, strategi pembelajaran, sampai sistem evaluasi dampak. Program training hanya satu komponen dari sistem itu, bukan produk utamanya.

Bisa. Kami mulai dengan audit terhadap apa yang sudah ada: mana yang masih relevan, mana yang perlu diperbarui, mana yang perlu dibangun dari nol. Tidak semua harus diulang dari awal.

"Sistem yang benar mengubah hasil yang sama menjadi berbeda."

Satu sesi diskusi sudah cukup untuk tahu apakah situasi Anda bisa diperbaiki, dan dari mana harus mulai.