Krisis akibat suatu perubahan bukanlah hal yang asing bagi kita. Krisis yang terjadi saat ini memberikan dampak pada banyak sektor usaha. Sebagai salah satu pelaku sektor usaha, tentunya kita ingin dapat selamat sehingga mampu bertahan bahkan berkembang di tengah-tengah krisis ini. Salah satu cara untuk bertahan dari krisis adalah dengan melakukan inovasi.

Namun, bagaimana cara melakukan inovasi apalagi di situasi krisis seperti sekarang ini?

Ada banyak cara untuk melakukan inovasi. Proxsis sebagai salah satu perusahaan yang berkomitmen untuk tetap bertahan dan berkembang di masa krisis melakukan 4 hal di bawah ini, sesuai dengan pesan yang disampaikan para pakar di Wharton:

  1. Fokus pada Talent.
    Ada banyak opsi terkait pengelolaan talent pada masa krisis, seperti menambah atau mengurangi talent. Namun, di Proxsis kita tidak rekrut talent baru, melainkan fokus pada talent internal yang sudah ada. Apa yang dilakukan pada talent internal?
  2. Memperkuat value
    Menyelenggarakan program belajar sehingga kompetensi yang dibutuhkan pada masa krisis terpenuhi. Di masa krisis ini, Proxsis memiliki target belajar 4x lebih cepat dengan berbagai jenis program : SDP (Special Development Program), BPS (Best Practice Sharing), ILDL (Interactive & Live Distance Learning), Forum Inovasi, Morning Briefing, dst. Bagi yang tidak bisa belajar cepat dan value (budaya inti perusahaan)-nya tidak tumbuh-tumbuh juga, baru terpaksa dicarikan gantinya. Pengembangan kompetensi talent pada masa krisis perlu dilakukan dengan cepat, kalau tidak maka perusahaan atau organisasi akan terburu “masuk angin” oleh pesimisme dan isu-isu negatif.
    Ada 2 (dua) tim yang membutuhkan percepatan kompetensi:

    • Tim Program
      Tim Program di Proxsis terbagi atas tiga, yaitu tim Digital Rangers, tim Customer Engagement, dan tim Project/Operation.
    • Tim Pengembangan Produk
      Selama krisis, tim pengembangan produk benar-benar fokus tanpa henti memikirkan solusi terkait permasalahan customer. Hampir lebih dari 300 produk baru direncanakan dalam 2 bulan awal krisis. Semua produk ditinjau statusnya. Apakah masih ide, sudah dites, sudah dipromosikan, atau malah sudah menyumbang revenue. Tim pengembangan produk berjalan di bawah pimpinan para spesialis, oleh karena itu sangat memungkinkan tim ini dipimpin oleh 3 leader berbeda sesuai dengan fokus pengembangan.

      Perlu diingat, inovasi itu bukan hanya produk, oleh karena itu inovasi produk membutuhkan 4 inovasi tambahan:

      • inovasi layanan
      • inovasi proses
      • inovasi marketing
      • inovasi teknologi sebagai nilai tambah.
  3. Melakuan pendekatan: Outside-in
    Saat krisis, fokus kita adalah pada permasalahaan customer. Di Proxsis kita wajib berempati pada customer. Mendengarkan permasalahan mereka, lalu mencarikan solusinya. Tim customer engagement akan menanyakan secara rutin dengan dibantu oleh tim digital marketing yang akan “mendengarkan customer” melalui digital survey dan data analysis.
  4. Mendorong tim untuk berani mengambil risiko dalam pengimplementasian hal baru.
    Dibutuhkan sikap entrepreneurship/intrapreneruship untuk mewujudkan keberanian dan kesiapan dalam pengambilan risiko. Maka penting untuk menumbuhkan sikap entrepreneurship/intrapreneruship di dalam tim-tim kecil di organisasi/ perusahaan. Tumbuhkan sikap tersebut seolah-olah mengelola unit usaha sendiri.

Penulis:
Rudi Maulana(Founder at Proxsis)
Nurul Fadillah(HR specialist at Proxsis)

Sumber:

Growth Leaders vs. Laggards: What Makes the Difference?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.

Menu
Open chat