Ada satu momen yang hampir semua trainer pernah alami. Materi sudah siap, slide sudah rapi, pembukaan berjalan lancar, lalu tiba-tiba muncul peserta yang mendebat, diam sepanjang sesi, terlalu dominan, atau bertanya di luar topik sampai alur kelas mulai goyah.
Di titik itu, reaksi paling cepat biasanya adalah memberi label “pesertanya sulit.”
Padahal, belum tentu begitu. Peserta yang terlihat sulit bisa jadi belum merasa terhubung dengan materi, belum melihat manfaat training, punya gaya komunikasi yang berbeda, atau merasa pengalamannya tidak cukup dihargai.
Apalagi dalam pembelajaran dewasa, peserta tidak datang sebagai “kertas kosong”. Mereka membawa pengalaman kerja, sudut pandang, ego profesional, kebiasaan berpikir, bahkan pengalaman buruk dari training sebelumnya.
Karena itu, menghadapi peserta sulit tidak cukup dengan suara lantang atau slide yang menarik. Trainer perlu memiliki audience mastery: kemampuan membaca audiens, membangun hubungan, memahami gaya komunikasi, dan mengelola situasi sulit tanpa membuat suasana kelas menjadi tegang.
Ada prinsip menarik dalam dunia training:
“Tak ada audience yang resisten, hanya presenter yang kurang fleksibel.”
Kalimat ini cukup menampar, tetapi penting. Sering kali, yang perlu diperbaiki lebih dulu bukan peserta, melainkan cara trainer membaca dinamika kelas.
Mengapa Peserta Dewasa Tidak Suka Digurui?
Training untuk orang dewasa berbeda dengan mengajar anak sekolah. Peserta dewasa umumnya sudah punya pengalaman, tanggung jawab, dan cara berpikir sendiri. Mereka bisa menerima masukan, tetapi tidak nyaman jika diperlakukan seolah-olah tidak tahu apa-apa.
Mereka juga tidak suka dihakimi. Kalimat yang terlalu menggurui seperti “Bapak/Ibu harus begini” sering membuat peserta defensif, apalagi jika mereka merasa realitas di lapangan jauh lebih kompleks daripada teori yang disampaikan.
Dalam prinsip adult learning atau pembelajaran dewasa, peserta akan lebih mudah belajar ketika mereka merasa dihargai. Pengalaman mereka perlu diakui, materi perlu dikaitkan dengan masalah nyata, dan proses belajar sebaiknya mengajak mereka berpikir, bukan sekadar menerima instruksi.
Itulah sebabnya pendekatan seperti ini biasanya lebih efektif:
“Bagaimana jika situasi ini kita lihat dari sudut pandang lain?”
Atau:
“Dalam pengalaman Bapak/Ibu, pola seperti ini biasanya muncul di kondisi apa?”
Nada seperti itu membuat peserta merasa dilibatkan. Mereka tidak sedang diberi ceramah, tetapi diajak berdiskusi. Dari sinilah audience mastery mulai bekerja.
Baca juga : Bikin Kamu PD, Ini Panduan Content Mastery dengan Mind Map dan Struktur 4MAT
Audience Mastery Bukan Sekadar Menguasai Ruangan
Banyak orang mengira audience mastery berarti kemampuan membuat peserta diam, patuh, dan mengikuti semua arahan trainer. Itu pemahaman yang terlalu sempit.
Audience mastery bukan soal mengontrol audiens seperti remote televisi. Trainer tidak sedang menekan tombol “diam”, “setuju”, atau “tertawa”. Kalau semudah itu, training cukup dibawakan oleh AC ruangan: stabil, dingin, dan tidak banyak drama.
Audience mastery adalah kemampuan memahami dinamika peserta, membaca respons mereka, lalu menyesuaikan cara komunikasi agar proses belajar tetap berjalan.
Trainer yang memiliki audience mastery biasanya mampu membangun rapport sejak awal sesi, membaca peserta yang dominan atau pasif, mengelola pertanyaan sulit tanpa defensif, menjaga alur kelas, dan membuat peserta merasa dihargai tanpa kehilangan kendali.
Dalam konteks training, kemampuan ini juga berkaitan dengan pemahaman demografi peserta, tahap kesiapan belajar, serta gaya belajar yang mereka miliki. Peserta yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
Baca juga : 5 Skill Utama untuk Transformasi dari Pembicara Biasa Menjadi Trainer Profesional
Kenapa Peserta Bisa Terlihat Sulit?
Sebelum buru-buru memberi label “sulit”, trainer perlu bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Perilaku peserta hampir selalu punya alasan. Kadang alasannya terlihat jelas, kadang tersembunyi di balik nada bicara, ekspresi wajah, pertanyaan kritis, atau sikap pasif sepanjang sesi.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering muncul.
1. Mereka Belum Melihat Manfaat Materi
Peserta dewasa ingin tahu satu hal sejak awal: “Apa gunanya materi ini untuk pekerjaan saya?”
Jika trainer tidak menjawab pertanyaan itu, peserta bisa terlihat tidak antusias. Mereka hadir secara fisik, tetapi pikirannya masih tertinggal di pekerjaan yang menumpuk.
Karena itu, pembukaan training perlu menjawab unsur why. Jelaskan mengapa materi penting, masalah apa yang akan terbantu, dan dampaknya bagi pekerjaan peserta. Ketika peserta melihat relevansi, resistensi biasanya mulai turun.
2. Mereka Merasa Pengalamannya Tidak Diakui
Peserta dewasa membawa pengalaman masing-masing. Ada yang sudah memimpin tim, menangani klien sulit, mengelola proyek besar, atau menghadapi konflik kerja bertahun-tahun.
Jika trainer datang dengan gaya “saya paling tahu”, peserta bisa merasa diremehkan. Dari sini muncul komentar sinis, debat panjang, atau sikap menolak.
Solusinya bukan mengalah. Solusinya adalah mengakui pengalaman mereka dengan tetap menjaga arah pembelajaran.
Contohnya:
“Pengalaman Bapak/Ibu menarik, karena di lapangan memang kondisinya sering tidak seideal teori. Mari kita gunakan itu sebagai contoh.”
Dengan begitu, peserta merasa kontribusinya dihargai, bukan dipatahkan.
3. Mereka Punya Gaya Komunikasi Berbeda
Ada peserta yang bicara cepat dan langsung ke inti. Ada yang ekspresif dan suka bercanda. Ada yang tenang dan butuh waktu. Ada juga yang sangat detail, kritis, dan ingin semua konsep dijelaskan runtut.
Jika trainer hanya menggunakan satu gaya komunikasi untuk semua peserta, sebagian audiens bisa merasa tidak cocok. Di sinilah pemahaman gaya komunikasi seperti DISC membantu trainer lebih fleksibel.
4. Mereka Pernah Mengalami Training yang Buruk
Sebagian peserta datang dengan asumsi, “Ah, paling training-nya begitu-begitu saja.”
Mungkin sebelumnya mereka pernah mengikuti pelatihan yang terlalu teoritis, tidak relevan, atau hanya penuh slide. Akibatnya, sejak awal mereka menjaga jarak.
Trainer perlu mematahkan pola itu dengan pembukaan yang kuat, contoh nyata, dan interaksi yang membuat peserta merasa sesi ini berbeda.
5. Mereka Sebenarnya Hanya Ingin Didengar
Tidak semua peserta yang banyak bicara berniat mengganggu. Kadang mereka hanya ingin didengar. Mereka punya keresahan, pertanyaan, atau pengalaman yang selama ini tidak punya ruang.
Trainer yang baik bisa membedakan mana peserta yang benar-benar menghambat kelas dan mana peserta yang hanya perlu diarahkan.
Kuncinya sederhana: dengarkan dulu, lalu kendalikan alurnya.
Baca juga : Catat! 15 Tren SDM 2026 yang Bikin Sukses Perusahaan Anda
Mengenali 4 Gaya Komunikasi Peserta dengan DISC
Dalam audience mastery, memahami gaya komunikasi peserta membantu trainer menyesuaikan pendekatan. Salah satu model yang sering digunakan adalah DISC, yang terdiri dari Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness.
Model ini bukan untuk memberi label permanen kepada peserta. Jangan sampai trainer berpikir, “Oh, dia tipe D, pasti susah.” Itu bukan audience mastery, itu ramalan zodiak versi ruang training.
DISC lebih tepat digunakan sebagai alat bantu membaca kecenderungan perilaku komunikasi di kelas.
1. Dominanc
Peserta dengan gaya Dominance biasanya percaya diri, cepat bicara, dan suka langsung ke inti. Mereka tidak terlalu sabar dengan penjelasan yang berputar-putar.
Di kelas, peserta seperti ini bisa terlihat menantang. Mereka mungkin bertanya tajam, memberi komentar kritis, atau ingin tahu hasil praktis dari materi.
Cara menghadapinya:
- sampaikan poin dengan jelas dan langsung;
- tunjukkan manfaat praktis;
- hindari terlalu banyak basa-basi;
- beri ruang untuk berkontribusi;
- jangan menjawab dengan nada defensif.
Contoh respons:
“Pertanyaan yang bagus. Kita langsung masuk ke dampaknya di pekerjaan supaya lebih konkret.”
Peserta Dominance biasanya menghargai trainer yang siap, jelas, dan tidak mudah goyah.
2. Influence
Peserta dengan gaya Influence biasanya aktif, ekspresif, dan senang suasana kelas yang hidup. Mereka mudah bercerita, memberi respons spontan, dan menikmati diskusi.
Tantangannya, pembahasan bisa melebar jika energinya tidak diarahkan.
Cara menghadapinya:
- libatkan mereka dalam diskusi;
- gunakan aktivitas interaktif;
- beri apresiasi atas kontribusi mereka;
- arahkan kembali jika pembahasan mulai keluar jalur;
- gunakan humor ringan jika sesuai.
Contoh respons:
“Menarik, Pak/Bu. Saya tangkap poinnya tentang pengalaman di lapangan. Kita parkir sebentar detailnya, lalu nanti kita hubungkan lagi dengan pembahasan utama.”
Jika diarahkan dengan tepat, peserta Influence bisa menjadi penghidup kelas.
3. Steadiness
Peserta dengan gaya Steadiness biasanya tidak langsung banyak bicara. Mereka cenderung mendengarkan, memperhatikan suasana, dan baru berbagi ketika merasa aman.
Jangan buru-buru menilai mereka pasif atau tidak tertarik. Bisa jadi mereka sedang memproses informasi.
Cara menghadapinya:
- beri waktu untuk berpikir;
- jangan memaksa mereka bicara terlalu cepat;
- gunakan diskusi kelompok kecil;
- ciptakan suasana yang aman;
- validasi pendapat mereka ketika mulai berbagi.
Contoh pendekatan:
“Silakan dipikirkan dulu. Nanti kita bahas bersama dari beberapa contoh yang muncul.”
Peserta Steadiness biasanya lebih nyaman ketika trainer tidak terlalu menekan, tetapi tetap memberi ruang partisipasi.
4. Conscientiousness
Peserta dengan gaya Conscientiousness biasanya suka data, struktur, dan penjelasan yang runtut. Mereka sering bertanya detail karena ingin memahami dasar logikanya.
Di kelas, peserta seperti ini bisa terasa seperti sedang menginterogasi. Padahal, mereka hanya butuh kejelasan.
Cara menghadapinya:
- siapkan contoh yang kuat;
- jelaskan struktur berpikir;
- hindari jawaban terlalu umum;
- akui jika ada hal yang perlu dicek;
- gunakan parking lot untuk pertanyaan yang terlalu detail.
Contoh respons:
“Pertanyaannya sangat spesifik. Agar pembahasan utama tetap berjalan, saya catat dulu di parking lot dan kita bahas di sesi tanya jawab.”
Peserta Conscientiousness bisa membuat diskusi lebih tajam, selama trainer mampu menjaga waktu dan alur.
Baca juga : Alasan Mind Power Jadi Kunci Utama bagi Trainer di Tahun 2026? Temukan Jawabannya!
Teknik Handling Difficult Situation dalam Training
Situasi sulit di kelas bisa muncul dalam banyak bentuk. Ada peserta yang mendominasi diskusi, bertanya terus, menolak materi, diam total, atau membawa pembahasan ke luar topik.
Kuncinya bukan melawan peserta. Kuncinya adalah mengelola energi kelas.
1. Dengarkan Sebelum Menjawab
Saat mendapat pertanyaan tajam atau komentar kritis, jangan buru-buru memotong. Dengarkan sampai inti pesannya jelas.
Banyak konflik kecil di kelas muncul karena trainer terlalu cepat merasa diserang.
Gunakan kalimat seperti:
“Baik, saya tangkap poin Bapak/Ibu adalah…”
Dengan mengulang inti pertanyaan, trainer menunjukkan bahwa ia mendengar. Peserta pun biasanya lebih tenang karena merasa dipahami.
2. Jangan Defensif
Peserta sulit sering menjadi semakin sulit ketika trainer defensif. Nada suara yang meninggi sedikit saja bisa membuat suasana berubah.
Jika ada peserta yang menantang, jaga nada tetap stabil. Fokus pada isu, bukan ego.
Contoh:
“Perspektif itu valid. Di beberapa kondisi, memang bisa terjadi seperti itu. Mari kita lihat konteksnya.”
Kalimat seperti ini tidak membuat trainer terlihat lemah. Justru menunjukkan kematangan.
3. Gunakan Pertanyaan Balik
Karena orang dewasa tidak suka digurui, pertanyaan balik sering lebih efektif daripada jawaban langsung yang terasa menghakimi.
Misalnya, ketika peserta berkata:
“Metode ini tidak akan jalan di perusahaan saya.”
Trainer bisa merespons:
“Menarik. Menurut Bapak/Ibu, bagian mana yang paling sulit diterapkan di konteks perusahaan tersebut?”
Dengan cara ini, peserta diajak berpikir lebih spesifik. Diskusi pun menjadi lebih produktif.
4. Tarik Pembahasan Kembali ke Tujuan Sesi
Ada peserta yang membawa diskusi terlalu jauh. Jika dibiarkan, kelas bisa kehilangan arah.
Trainer perlu mengembalikan pembahasan dengan halus.
Contoh:
“Poin itu menarik. Namun, supaya tujuan sesi tetap tercapai, saya tarik kembali ke pembahasan utama tentang cara mengelola audiens.”
Kalimat ini menjaga alur tanpa membuat peserta merasa dipotong secara kasar.
5. Libatkan Peserta Lain
Jika satu peserta terlalu dominan, ajak peserta lain ikut memberi pandangan.
Contoh:
“Bagaimana dengan peserta lain? Apakah ada yang punya pengalaman berbeda?”
Cara ini membuat kelas lebih seimbang. Peserta dominan tetap dihargai, tetapi tidak mengambil seluruh ruang.
6. Gunakan Humor Secukupnya
Humor bisa mencairkan situasi, asal digunakan dengan hati-hati. Jangan menjadikan peserta sebagai bahan bercanda. Humor yang aman diarahkan pada situasi, bukan orang.
Misalnya:
“Kalau semua pertanyaan kita bahas sekarang, kelas ini bisa berubah jadi serial panjang. Kita parkir dulu satu poin ini, nanti kita lanjutkan di sesi tanya jawab.”
Ringan, tetapi tetap menjaga kendali.
Baca juga : Yamaha Indonesia Gandeng Proxsis HR Tingkatkan Kompetensi Trainer Lewat Mind Power Program
Strategi Parking Lot untuk Mengelola Pertanyaan Sulit
Salah satu teknik paling berguna dalam handling difficult situation adalah parking lot.
Parking lot adalah strategi untuk mencatat pertanyaan, isu, atau pembahasan yang penting, tetapi belum tepat dibahas saat itu. Tujuannya agar pertanyaan peserta tetap dihargai tanpa membuat alur training berantakan.
Teknik ini berguna ketika pertanyaan terlalu detail, keluar dari topik utama, membutuhkan waktu panjang, atau lebih cocok dibahas di akhir sesi.
Parking lot bukan cara menghindari pertanyaan. Justru ini cara profesional untuk menjaga pertanyaan tetap tercatat dan dibahas pada waktu yang tepat.
Cara Menggunakan Parking Lot dengan Elegan
Agar parking lot tidak terdengar seperti “nanti ya, kalau ingat”, trainer perlu menggunakannya secara jelas.
1. Jelaskan sejak awal sesi
Di awal training, trainer bisa mengatakan:
“Jika nanti ada pertanyaan yang menarik tetapi belum pas dibahas saat itu, saya akan masukkan ke parking lot supaya tetap tercatat dan kita bahas di waktu yang sesuai.”
Dengan begitu, peserta memahami aturan main sejak awal.
2. Catat secara terlihat
Jika memungkinkan, gunakan papan tulis, sticky notes, flipchart, atau slide khusus untuk mencatat pertanyaan parking lot. Ini menunjukkan bahwa pertanyaan peserta benar-benar dihargai.
3. Beri alasan singkat
Jangan hanya berkata “kita parkir dulu”. Berikan alasan agar peserta memahami konteksnya.
Contoh:
“Pertanyaan ini bagus, tetapi jawabannya cukup panjang. Supaya alur materi tidak terputus, saya catat dulu di parking lot.”
4. Bahas kembali di akhir sesi
Ini bagian yang paling penting. Jika trainer tidak kembali ke daftar parking lot, peserta bisa merasa pertanyaannya diabaikan.
Sediakan waktu khusus, meskipun singkat, untuk membahas pertanyaan yang sudah diparkir.
Bangun Rapport Sebelum Mengelola Peserta Sulit
Sebelum menangani peserta sulit, trainer perlu membangun rapport. Rapport adalah hubungan awal yang membuat peserta merasa nyaman, dihargai, dan aman untuk terlibat.
Tanpa rapport, teknik apa pun bisa terasa dingin. Dengan rapport, bahkan arahan atau koreksi dari trainer lebih mudah diterima.
Rapport bisa dibangun melalui hal sederhana, seperti menyapa peserta dengan hangat, menggunakan contoh yang dekat dengan pekerjaan mereka, mengakui pengalaman peserta, menjaga kontak mata, dan membuka ruang diskusi sejak awal.
Rapport bukan basa-basi. Rapport adalah fondasi kepercayaan.
Peserta yang percaya pada trainer cenderung lebih mudah diajak berdiskusi, menerima arahan, dan mengikuti proses belajar.
Fleksibilitas adalah Kunci Audience Mastery
Trainer yang baik tidak hanya punya materi. Ia juga punya fleksibilitas.
Fleksibilitas berarti mampu menyesuaikan gaya komunikasi tanpa kehilangan tujuan. Ketika peserta terlalu dominan, trainer bisa mengarahkan. Ketika peserta pasif, trainer bisa mengajak perlahan. Ketika ada pertanyaan kritis, trainer tidak panik. Ketika diskusi melebar, trainer bisa menariknya kembali.
Fleksibilitas juga berarti tidak mudah memberi label buruk kepada peserta.
Peserta yang kritis belum tentu melawan. Peserta yang diam belum tentu tidak paham. Peserta yang bercanda belum tentu tidak serius. Peserta yang bertanya panjang belum tentu ingin mengganggu.
Tugas trainer adalah membaca sinyal, bukan buru-buru menghakimi.
Inilah inti dari audience mastery: memahami manusia di balik perilaku.
Kesimpulan
Menghadapi peserta sulit bukan soal siapa yang paling dominan di ruangan. Ini tentang kemampuan trainer membaca situasi, memahami gaya komunikasi, dan mengelola energi kelas dengan lebih fleksibel.
Orang dewasa tidak suka digurui atau dihakimi. Mereka lebih mudah belajar ketika diajak berpikir, dihargai pengalamannya, dan diberi ruang untuk terlibat. Karena itu, audience mastery menjadi bekal penting bagi siapa pun yang sering memfasilitasi training, workshop, atau presentasi bisnis.
Dengan memahami prinsip pembelajaran dewasa, mengenali gaya komunikasi DISC, menggunakan teknik handling difficult situation, dan menerapkan strategi parking lot, trainer dapat mengubah situasi menantang menjadi proses belajar yang lebih produktif.
Pada akhirnya, peserta sulit bukan selalu masalah. Kadang, mereka adalah sinyal bahwa trainer perlu lebih fleksibel, lebih peka, dan lebih siap membaca dinamika kelas. Dan di situlah kualitas seorang trainer benar-benar terlihat.
Kembangkan Audience Mastery Trainer dengan Pendekatan yang Lebih Terstruktur
Kemampuan menghadapi peserta sulit tidak muncul hanya dari keberanian berbicara di depan kelas. Trainer perlu memahami prinsip pembelajaran dewasa, gaya komunikasi peserta, teknik membangun rapport, serta cara menangani situasi sulit tanpa kehilangan kendali sesi.
Bagi organisasi yang ingin memperkuat kualitas trainer internal, Program Training of Trainer/Sertifikasi BNSP TOT Proxsis HR dapat menjadi langkah pengembangan yang relevan. Program ini membantu trainer membangun kompetensi secara lebih terstruktur, mulai dari penyusunan materi, penguasaan audiens, teknik penyampaian, hingga evaluasi pembelajaran.
Dengan pendekatan yang tepat, trainer tidak hanya menjadi penyampai materi. Ia menjadi fasilitator yang mampu membuat peserta merasa dilibatkan, dihargai, dan terdorong untuk menerapkan pembelajaran.
FAQ
- Apa itu audience mastery?
Audience mastery adalah kemampuan trainer memahami, membaca, dan mengelola audiens agar proses training tetap efektif dan peserta tetap terlibat. - Mengapa peserta dewasa tidak suka digurui?
Peserta dewasa biasanya sudah punya pengalaman dan sudut pandang sendiri. Mereka lebih nyaman diajak berpikir daripada diberi instruksi secara menggurui. - Apa hubungan DISC dengan audience mastery?
DISC membantu trainer mengenali gaya komunikasi peserta, seperti Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness, sehingga pendekatan bisa lebih tepat. - Bagaimana cara menghadapi peserta yang terlalu dominan?
Dengarkan poinnya, beri apresiasi singkat, lalu arahkan kembali ke tujuan sesi. Trainer juga bisa melibatkan peserta lain agar diskusi lebih seimbang. - Apa itu strategi parking lot dalam training?
Parking lot adalah teknik mencatat pertanyaan atau isu yang penting, tetapi belum tepat dibahas saat itu, agar alur training tetap terjaga. - Mengapa rapport penting dalam training?
Rapport membantu peserta merasa nyaman dan dihargai. Dengan hubungan yang baik, peserta lebih mudah terlibat dan menerima arahan trainer. - Apa kunci utama menghadapi peserta sulit?
Kuncinya adalah fleksibilitas. Trainer perlu membaca situasi, memahami gaya komunikasi peserta, dan mengelola respons tanpa defensif.
Inquiry
News & Article
Latest Events
- Bukan Cuma Mesin! Rahasia Budaya Keselamatan Kerja Jadi Kunci Roda Bisnis Manufaktur Raksasa Tetap Ngebut
- Gara-gara Masalah Ini, PT MUM Gelar Emerging Leadership Development Program Bersama Proxsis HR!
- Leader Bootcamp YOU C1000 Jadi Titik Balik, 60 Manajer dan Supervisor Ditempa Bangun Ownership dan Dedikasi 1000 Persen
- Proxsis HR: Sinergi HR dan K3 Tekan 80 Persen Kecelakaan Akibat Perilaku Tidak Aman
- Proxsis HR Gelar Program T3 untuk Atasi Tantangan Komunikasi Karyawan di Era Digital
Recent Posts
Contact Us
Permata kuningan Building 17Th Floor, Suite 1701 Jl. Kuningan Mulia kav 9 Kawasan bisnis epicentrum Jakarta – 12980
Phone: 0813-8080-7366| 081111862876
Fax: 021-8370.8679 | 021-8370.8680
Inquiry
News & Article
Latest Events
- Bukan Cuma Mesin! Rahasia Budaya Keselamatan Kerja Jadi Kunci Roda Bisnis Manufaktur Raksasa Tetap Ngebut
- Gara-gara Masalah Ini, PT MUM Gelar Emerging Leadership Development Program Bersama Proxsis HR!
- Leader Bootcamp YOU C1000 Jadi Titik Balik, 60 Manajer dan Supervisor Ditempa Bangun Ownership dan Dedikasi 1000 Persen
- Proxsis HR: Sinergi HR dan K3 Tekan 80 Persen Kecelakaan Akibat Perilaku Tidak Aman
- Proxsis HR Gelar Program T3 untuk Atasi Tantangan Komunikasi Karyawan di Era Digital
Recent Posts
Contact Us
Permata kuningan Building 17Th Floor, Suite 1701 Jl. Kuningan Mulia kav 9 Kawasan bisnis epicentrum Jakarta – 12980
Phone: 0813-8080-7366| 081111862876
Fax: 021-8370.8679 | 021-8370.8680