Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kepemimpinan Rasulullah?

6 Menit Membaca
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kepemimpinan Rasulullah?


Pemimpin harus memiliki kepribadian yang baik untuk menghasilkan sikap – sikap kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan yang baik juga akan memberikan pengaruh untuk orang – orang di bawah kepemimpinannya. Dalam Islam contoh kepemimpinan sempurna dengan kepribadian yang baik dapat dipelajari pada diri Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. 

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah (QS Al-Ahzab: 21).

Setiap orang dapat belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin dari cara kepemimpinan Rasulullah. Apalagi dalam Islam, setiap orang mendapat tugas sebagai seorang pemimpin. Kepemimpinan itu harus dijalankan penuh dengan rasa tanggungjawab. Setiap manusia diciptakan sebagai pemimpin sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW bersabda:

Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Kehebatan Rasulullah dalam memimpin juga diakui oleh kalangan di luar Islam. Nabi Muhammad SAW diakui sebagai sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah di kehidupan umat manusia. Hal ini diakui oleh Michael Hart seorang penulis Barat dalam bukunya yang berjudul The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History. Secara obyektif ia menempatkan Nabi SAW sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah. 

Karakter Kepemimpinan Menurut Rasulullah

Sikap Rasulullah menjadi tolak ukur bagi setiap muslim, termasuk dalam soal menjalankan kepemimpinan. Setiap muslim harus menjadikan Rasulullah sebagai teladan agar dapat melaksanakan tanggungjawab dengan baik. Berikut ini adalah hal yang dapat diteladani dari Rasulullah:

1. Mengutamakan Musyawarah Dalam Mengambil Keputusan

Walaupun menjadi seorang pemimpin, Rasulullah tidak mengambil keputusan secara sepihak berdasarkan keinginan dirinya sendiri. Rasulullah selalu mencari pemecahan masalah yang dihadapi dengan kekuatan bersama melalui musyawarah. Rasulullah sering mendengar pendapat para sahabatnya terhadap sesuatu, bahkan mengikuti pendapat sahabatnya itu.

Contoh musyawarah di masa Nabi yaitu, pada suatu saat Nabi mengajak para sahabatnya bermusyawarah ketikq Perang Uhud, apakah beliau tetap berada di Madinah atau keluar menyambut kedatangan musuh. Saat itu sebagian besar sahabat mengusulkan agar semuanya berangkat menghadapi mereka. Kemudian Nabi memutuskan untuk berangkat bersama pasukannya menuju ke arah musuh berada. 

Contoh lain, Nabi mengajak sahabatnya bermusyawarah dalam Perang Khandaq, apakah memilih berdamai dengan golongan yang bersekutu dengan memberikan sepertiga dari hasil buah-buahan Madinah pada tahun itu. Usul itu ditolak oleh dua orang yaitu Sa’d ibnu Mu’az dan Sa’d ibnu Ubadah. Akhirnya Nabi menuruti pendapat mereka. 

Nabi juga pernah mengajak para sahabatnya bermusyawarah dalam Peristiwa Hudaibiyah, apakah sebaiknya beliau bersama kaum muslim menyerang orang-orang musyrik. Maka salah seorang sahabat Abu Bakar Al-Siddiq berkata, “Sesungguhnya kita datang bukan untuk berperang, melainkan kita datang untuk melakukan ibadah umrah.” Kemudian Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar.

Dalam kepemimpinan tentu musyawarah sangat berperan dalam mengambil keputusan. Seorang belum tentu benar dalam setiap keputusannya dan bawahan bisa juga punya ide yang bagus demi mencapai tujuan bersama. Lewat musyawarah dapat menghasilkan keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan.

2. Menjaga Akhlakul Karimah

Rasulullah selalu menerapkan akhlak mulia dalam setiap tindakannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk saat memimpin. Nabi merupakan pribadi yang menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.

Nabi Muhammad SAW memimpin dengan penuh rasa empati. Rasul tidak pernah mencaci seseorang, tidak mencari kesalahan orang lain, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Rasulullah selalu membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, dan banyak sifat mulia lainnya.

Rasulullah SAW selalu mengedepankan keteladanan atau uswah hasanah dalam memimpin, memberikan contoh dalam segala hal. Bahkan sikap mulia Rasulullah ini dipuji langsung oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 21.

Menjaga akhlakul karimah sangat berperan dalam kepemimpinan, karena seorang cenderung meniru dari apa yang dapat dilihatnya. Saat seorang pemimpin berakhlakul karimah, tentu akan ditiru karena menjadi panutan bagi orang – orang yang dipimpin.

3. Bijaksana Dalam Bersikap

Seorang pemimpin harus memiliki sikap bijaksana, kecerdasan manajerial yang tinggi dalam mengelola, mengatur, dan menempatkan anggota masyarakatnya dalam berbagai posisi sesuai kemampuan, sehingga dapat mencapai tujuan utamanya.

Salah satu contoh sikap bijaksana Nabi Muhammad SAW adalah ketika terjadi keributan antar kepala suku saat ingin meletakkan hajar aswad di tempatnya. Nabi memberikan solusi dengan merentangkan sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Kabah. Para pemimpin suku pun merasa puas dengan solusi yang diberikan.

Kebijaksanaan Rasulullah juga tampak saat peristiwa penggalian parit bersama para sahabatnya, Rasulullah turut melibatkan mereka untuk mengambil perannya masing-masing. Rasulullah sangat terbuka dengan ide dan masukan dari para sahabat terlebih jika ditujukan untuk mempermudah pekerjaan.

Hal tersebut dilakukan Rasulullah sekaligus untuk memberikan pengajaran bahwa setiap pekerjaan dan tantangan akan lebih mudah dilalui apabila diselesaikan bersama-sama. Sikap kebijaksanaan yang tercermin dari Rasulullah terbukti mengantarkan pasukannya pada kemenangan. 

Seorang pemimpin harus bijaksana dalam bersikap dan mengambil keputusan. Kebijaksanaan pemimpin dapat membuat kelompok bertahan menghadapi masalah yang datang serta mengantarkan pada tujuan bersama.

4. Mengutamakan Kepentingan Bersama

Rasulullah selalu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan dirinya sendiri. Bahkan Rasul selalu mendahulukan kebutuhan sahabat ataupun keluarganya dibandingkan kepentingan pribadinya.

Dalam berbagai riwayat, dapat diketahui, Rasulullah sering memberikan nasihat serta mencarikan jalan keluar bagi para sahabat yang kala itu sedang mendapat masalah. Padahal di saat yang sama Rasulullah juga sedang mengalami kesulitan, namun ia tetap berusaha memberikan empati pada kalangan sahabat yang meminta bantuannya. 

Sebagai contoh, Nabi pernah menunjukkan sikap empati saat pertempuran ketika dia tidak makan dalam beberapa hari. Bahkan, dia sampai mengikat dua batu di perutnya untuk melewati proses tersebut. Nabi ingin merasakan apa yang juga dirasakan oleh para sahabatnya.

Pada kisah lain, Nabi menempatkan diri  pada posisi sahabatnya dengan menggali parit dan merasakan lapar bersama para pengikutnya. Hal ini bukti sikap empati dan kemanusiaan Nabi SAW. Sikap ini sulit ditemukan pada kualitas pemimpin saat ini yang lebih banyak mementingkan dirinya sendiri. 

 

5. Rendah Hati

Rasulullah juga memberi teladan karena sifat rendah hati. Beliau tidak pernah memandang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan orang lain. Beliau selalu menganggap derajat manusia adalah sama di hadapan Allah, dan ketakwaanlah yang menjadi pembedanya.

Sebagai contoh, Nabi tidak segan-segan melakukan pekerjaan fisik saat penggalian parit. Bersama dengan pengikutnya, dia terlibat langsung dalam proses tersebut dan membantu mengangkat batu, hingga menggali tanah. Dia bekerja begitu keras, sehingga menurut Al Bara’ ibn ‘Azib, “seluruh perutnya tertutup debu”.

Sikap itu menunjukkan betapa rendah hatinya Nabi SAW. Dia berjuang bersama sahabatnya dan ikut merasakan rasa lelah dan sakit akibat bekerja fisik. Kualitas kepemimpinan lainnya yang dimiliki oleh Rasulullah SAW ketika dia secara terbuka menerima saran seorang pendamping untuk menggali parit, yang belum digunakan oleh orang Arab sebelumnya sebagai strategi perang.

Demikianlah sejumlah sikap Rasulullah yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan di zaman sekarang. Setiap orang yang ingin menjadi pemimpin dapat belajar dari Rasulullah sebagai teladan. Ikuti terus artikel-artikel menarik lainnya hanya di Proxsis HR.

Menu