Sobat Proxsis pernahkah Anda mendapat telepon dari telemarketer Bank tempat Anda menabung? Atau penawaran product dari telemarketer provider? Pada dasarnya telemarketer menggunakan Teknik Hypnotic Language Pattern, yaitu jenis kata-kata dan susunan kata yang mampu membuat pendengarnya mengalami trance.

Dalam dialognya, sebenarnya telemarketer menggunakan script dengan alur yang sangat jelas. Dalam Hypnotic Language Pattern, kata-kata yang digunakan disebut dengan evaluative words. Pemahaman dari Hypnotic sendiri adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu.

John Grinder pernah mengungkapkan bahwa Milton Erickson telah menyediakan sebuah model komunikasi yang paling ampuh yang pernah digunakan. Betapa tidak? Erickson telah merevolusi cara kerja hypnosis dan juga komunikasi sehingga menjadi begitu fleksibel dalam mengatasi berbagai persoalan. Pesan atau informasi yang disampaikan oleh komunikator mengandung muatan emosi yang tinggi, message overload, trance logic, relaksasi pikiran, identifikasi kelompok, dan imajinasi. Bagaimana persisnya kita bisa memainkan hypnotic language dalam komunikasi kita?

  1. “Distortion Nominalization”

Distortion merupakan pola bahasa yang digunakan untuk membantu seseorang ketika melakukan penyederhanaan dengan mengubah makna suatu informasi. Ini adalah proses ketika kita mendistorsi makna dan struktur dari sebuah informasi agar lebih singkat dan mudah diucapkan, sehingga dapat bertahan secara permanen dalam diri seseorang.

  1. “Mind Reading”

Pola ini menyatakan bahwa seorang komunikator tahu isi pikiran lawan bicaranya. Dengan menggunakan kata-kata yang tersamar atau tidak langsung. Kata kuncinya adalah “saya tahu, Saya memahami anda, Saya mengerti keadaan anda”. Memanfaatkan mind-reading secara tepat akan memunculkan semacam keyakinan dalam diri lawan bicara.

  1. “Cause Effect”

Metode ini menciptakan sebuah keterkaitan antara berbagai kondisi yang sudah diciptakan, komunikator  menggunakan kata-kata kunci hubungan sebab-akibat untuk mengaplikasikan model ini. Sehingga akan menimbulkan keyakinan dalam benak lawan bicara.

  1. Presuppositions”

Setiap kalimat selalu mengandung asumsi. Maka tantangannya bukan apakah kita akan memasukkan sebuah asumsi atau tidak, melainkan bagaimana kita memasang sebuah asumsi yang tepat untuk mengarahkan rekan bicara kepada perilaku dan kondisi yang diinginkan. Model ini sangat mungkin untuk dapat dikombinasikan model-model lain.

Berdasarkan cara kerja pikiran tersebut, ternyata ada sejumlah pola bahasa yang dapat menjangkau reaksi pikiran bawah sadar tanpa terlalu mendapat kritisi oleh pikiran sadar. Itulah yang disebut dengan pola bahasa Hypnotic Language Pattern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.

Menu
Open chat