Kami membantu organisasi mengukur beban kerja secara objektif dan menyeluruh, sebagai dasar penentuan jumlah tenaga kerja ideal, penataan struktur, dan keputusan staffing yang selaras dengan strategi bisnis.
Penambahan atau pengurangan staf diputuskan berdasarkan keluhan atau persepsi, bukan data beban kerja aktual.
Tidak ada kejelasan apakah Manager atau posisi senior masih terjebak mengerjakan tugas teknis/administratif yang seharusnya didelegasikan.
Pembagian tugas di lapangan sering tidak sesuai dengan matriks tanggung jawab yang berlaku, menimbulkan tumpang tindih fungsi.
Ada unit yang overstaffed sementara unit lain understaffed, tanpa organisasi menyadarinya.
Biaya tenaga kerja terus naik tanpa organisasi bisa menjelaskan apakah kenaikan itu selaras dengan nilai yang dihasilkan.
Kami dari Proxsis HR tidak menggunakan pendekatan generik satu-untuk-semua — setiap fungsi dianalisis sesuai karakteristik kerjanya:
Supporting & Management (HR, Finance, IT Support, Legal)
Di analisis berbasis volume aktivitas (Activity-Based FTE) untuk mengidentifikasi bottleneck dan peluang efisiensi.
Commercial & Business Development
Di analisis dengan mempertimbangkan sifat pipeline-driven dan tingkat ketidakpastian (win-rate), memastikan waktu untuk business development tidak mengorbankan kualitas delivery.
Delivery & Project Execution
Di analisis berbasis standar aktivitas dan skenario, untuk menyeimbangkan beban agar tidak terjadi burnout saat peak maupun idle saat sepi.
Hasil analisis divalidasi melalui triangulasi data: wawancara pemangku jabatan, data historis dan administratif, serta dokumen perencanaan dan target bisnis — sehingga tidak hanya mengandalkan persepsi narasumber.
⬩ Kepastian jumlah personil di tiap divisi selaras dengan target bisnis.
⬩ Data valid sebagai dasar sebelum memutuskan penambahan staf atau mutasi antar departemen.
⬩ Basis penyesuaian Job Description agar tetap relevan dengan kebutuhan saat ini.
⬩ Identifikasi apakah Manager/posisi senior masih terjebak di pekerjaan teknis yang seharusnya didelegasikan.
⬩ Validasi kesesuaian pembagian tugas di lapangan dengan uraian jabatan.
⬩ Menghindari tumpang tindih fungsi yang menyebabkan kebingungan koordinasi.
⬩ Deteksi aktivitas bernilai tambah rendah yang menghabiskan waktu berlebihan. ⬩ Identifikasi bottleneck yang menghambat penyelesaian pekerjaan/proyek. ⬩ Pemetaan area yang bisa dipercepat melalui standarisasi atau teknologi.
Bukan formula generik yang diterapkan seragam ke seluruh organisasi.
Bukan hanya wawancara/persepsi, sehingga hasil lebih defensible di hadapan Direksi maupun auditor.
Right-sizing, redistribusi tenaga kerja, hingga optimalisasi biaya tenaga kerja — bukan berhenti di angka FTE saja.
Optimis/moderat/krisis – untuk antisipasi perubahan kebutuhan tenaga kerja jangka panjang.
Mulai dengan Diagnostic Session — tanpa ikatan, tanpa komitmen di awal.