Politik sering dianggap urusan yang jauh dari kehidupan pribadi. Seolah-olah ia hanya bergerak di ruang sidang, meja rapat, atau layar televisi.
Padahal, ketika isu politik memanas terus-menerus, dampaknya bisa masuk sangat dekat ke kehidupan sehari-hari: kepala terasa penuh, emosi lebih mudah naik, tidur terganggu, dan rasa lelah mental datang tanpa selalu disadari.
Di situlah persoalannya.
Kesehatan mental tidak hanya dibentuk oleh faktor biologis dan psikologis pribadi, tetapi juga oleh peristiwa kolektif yang terus menghantam ruang batin masyarakat. Kontroversi politik, kebijakan pemerintah, sampai kasus nasional yang bergulir tanpa jeda dapat berubah menjadi sumber stres yang nyata.
Bagi warga awam, situasinya sering serba sulit. Ingin tetap mengikuti perkembangan, tetapi terlalu banyak paparan negatif juga bisa menguras kewarasan.
Dalam konteks ini, gejolak politik tidak berhenti sebagai perdebatan di ruang publik. Ia bisa menjelma menjadi stresor. Artinya, dinamika politik dan kebijakan publik yang semula tampak makro perlahan berubah menjadi tekanan psikologis yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sepanjang awal 2025, ada banyak isu nasional yang memicu polemik dan mudah menyedot emosi publik. Mulai dari efisiensi anggaran pemerintah, masalah Makanan Bergizi Gratis yang bermasalah, korupsi pengolahan BBM dan praktik korupsi lain yang terus berulang, pengesahan RUU yang menuai kritik dan penolakan tetapi tetap berjalan, sampai Proyek Strategi Nasional yang dinilai merugikan alam dan masyarakat adat Papua.
Daftarnya tidak pendek. Dan bagi publik, akumulasi isu semacam ini bukan sekadar informasi. Ia bisa terasa seperti beban yang datang terus-menerus.
Masalahnya bertambah rumit karena arus informasi begitu mudah masuk. Pemberitaan kontroversi politik di media elektronik dan media sosial dapat dikonsumsi dengan cepat, masif, dan nyaris tanpa jeda oleh berbagai kelompok umur.
Akibatnya, banyak orang berada dalam posisi serba tanggung: ingin tetap up to date agar tidak buta keadaan, tetapi di saat yang sama harus berhadapan dengan derasnya kabar negatif yang mengganggu stabilitas mental.
Baca juga : Kesehatan Mental di Tempat Kerja, Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya
Kebijakan Pemerintah Bikin Stres Kolektif
Stres pada dasarnya adalah respons terhadap ancaman atau tantangan. Dalam kehidupan sehari-hari, stres biasanya dikaitkan dengan pekerjaan, relasi, atau tekanan ekonomi. Namun dalam konteks politik, sumber stres itu bisa datang dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan dan dirasakan tidak berpihak kepada masyarakat.
Di titik ini, politik tidak lagi terasa abstrak. Ia menjadi sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah oleh warga yang tidak punya banyak kendali atas keputusan yang sedang diambil. Kebijakan yang sudah dikritik, ditolak, atau dipersoalkan pun kadang tetap berjalan. Bagi masyarakat awam, pengalaman seperti ini mudah memunculkan rasa frustrasi, tidak berdaya, marah, dan lelah secara emosional.
Itulah sebabnya gejolak politik bisa menjadi tekanan kolektif. Bukan karena semua orang aktif berpolitik, melainkan karena keputusan politik punya efek langsung pada rasa aman, rasa percaya, dan perasaan memiliki kendali atas hidup sendiri.
Bahaya dari stres politik yang berlangsung terus-menerus bukan cuma soal suasana hati yang memburuk. Dampaknya bisa merembet jauh.
Satu temuan pada 2023 menunjukkan bahwa pemberitaan peristiwa politik sehari-hari membangkitkan emosi negatif. Orang yang mengalami lebih banyak emosi negatif terkait politik cenderung melaporkan kondisi kesehatan psikologis dan fisik harian yang lebih buruk. Jadi, efeknya tidak cuma terasa di pikiran. Tubuh ikut merasakannya.
Temuan lain yang dikutip dari penelitian 2019 juga menggambarkan betapa seriusnya persoalan ini. Hampir 40 persen orang Amerika menyebut politik sebagai sumber kecemasan yang signifikan, insomnia, bahkan pikiran untuk bunuh diri. Dampak semacam ini terlihat lebih menonjol pada kelompok muda, mereka yang lebih terlibat secara politik, serta mereka yang menentang pemerintah.
Kalau ditarik lebih luas, paparan stres politik yang terus-menerus telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan, depresi, pilihan gaya hidup yang buruk, sampai penurunan kesehatan medis secara umum. Bagi orang yang memang sudah hidup dengan kecemasan atau depresi, tekanan dari isu politik bisa terasa lebih besar lagi. Jadi persoalannya jelas: gejolak politik bukan sekadar melelahkan secara emosional, tetapi juga bisa memperburuk kualitas hidup secara keseluruhan.
Di sisi lain, ada temuan yang menarik. Paparan isu politik memang bisa membangkitkan emosi negatif dan merusak kesehatan harian, tetapi itu tidak selalu berujung pada sikap pasif. Dalam temuan 2023 tadi, emosi negatif yang muncul justru juga diikuti oleh motivasi yang lebih besar untuk bertindak atas dasar politik, misalnya dengan menjadi sukarelawan.
Di sinilah letak dilemanya. Menjaga jarak dari stres politik dapat membantu kesejahteraan mental, tetapi ada risiko keterlibatan sosial ikut menurun. Sebaliknya, terlalu larut dalam isu politik bisa membuat seseorang tetap aktif, tetapi mentalnya habis terkuras.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar ikut atau tidak ikut. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa tetap waras sambil tetap sadar. Tetap peduli, tetapi tidak tenggelam. Tetap mengikuti perkembangan, tetapi tidak menyerahkan seluruh ruang batin kepada berita yang melelahkan.
Baca juga : Cuti Mental Health: Tren HR 2026 untuk Kesejahteraan Karyawan
Bagaimana Menjaga Mental Tetap Sehat?
Ketika situasi politik terasa makin bising, yang dibutuhkan bukan menarik diri sepenuhnya dari realitas. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan diri yang lebih sadar. Ada delapan langkah praktis yang bisa dijadikan pegangan agar kesehatan mental tidak terus-menerus terkikis oleh paparan isu politik.
1. Kendalikan apa yang masih bisa dikendalikan
Tidak semua hal bisa diubah oleh individu. Tetapi tetap ada ruang yang bisa diatur. Batasi informasi yang dikonsumsi, pilih apa yang memang perlu diikuti, dan tentukan langkah kecil yang realistis. Bentuknya bisa sederhana, seperti menyusun jadwal self-care, bertemu teman secara teratur, atau menyalurkan kepedulian sosial lewat kegiatan sukarela.
Sikap ini membantu seseorang keluar dari rasa lumpuh. Saat keadaan terasa kacau, fokus pada hal yang masih bisa dikendalikan memberi rasa pijakan.
2. Optimalkan kekuatan diri sendiri
Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi tekanan. Karena itu, penting melihat kembali apa yang dulu pernah membantu saat menghadapi masa sulit. Ada orang yang lebih terbantu dengan penerimaan, ada yang terbantu dengan humor, ada pula yang lebih kuat ketika mampu membingkai ulang situasi yang menegangkan.
Pendekatan ini tidak membuat masalah politik hilang. Tetapi ia membantu seseorang agar tidak terus-menerus hanyut di dalamnya.
3. Batasi asupan media dan berita negatif
Ini salah satu langkah paling mendasar. Di tengah perkembangan politik, menjauh dari berita memang tidak mudah. Namun terus-menerus membaca kabar negatif dapat melelahkan dan memancing emosi negatif yang berkepanjangan.
Membatasi paparan bukan berarti apatis. Ini soal menjaga ritme. Seseorang tetap bisa mengikuti isu penting tanpa harus membiarkan dirinya terendam informasi sepanjang hari.
4. Kembali ke saat ini lewat mindfulness
Ketika sistem saraf berada dalam keadaan waspada tinggi, pikiran cenderung bergerak ke skenario terburuk. Di titik seperti ini, latihan mindfulness bisa membantu menarik diri kembali ke saat ini.
Bentuknya tidak harus rumit. Meditasi, yoga, gerakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, atau sekadar menarik napas dalam beberapa kali bisa membantu tubuh dan pikiran keluar dari respons stres yang terlalu tinggi.
5. Gunakan momen ini untuk mengevaluasi ulang hidup
Pergolakan besar sering memaksa orang meninjau ulang apa yang sebenarnya paling penting dalam hidupnya. Politik yang gaduh bisa menjadi momen untuk melihat kembali nilai-nilai, hubungan, tujuan, dan arah hidup sendiri.
Ini bukan romantisasi krisis. Hanya saja, saat dunia luar terasa tidak stabil, kadang justru muncul kesempatan untuk menilai ulang apa yang benar-benar perlu dijaga dan apa yang selama ini terlalu banyak menyita energi.
6. Akui kesedihan, jangan dipendam terus
Tidak semua dampak politik muncul dalam bentuk marah atau cemas. Kadang yang muncul justru rasa kehilangan, kecewa, dan sedih. Perasaan seperti ini perlu diakui, bukan ditekan terus-menerus.
Mengelola kesedihan bisa dilakukan dengan berbicara dengan orang lain yang merasakan hal serupa, mencari perspektif dari mentor, atau mencari bantuan profesional ketika keadaan terasa terlalu berat. Mengakui luka mental bukan tanda lemah. Justru itu bagian dari keberanian untuk merawat diri.
7. Prioritaskan perawatan diri yang paling dasar
Saat keadaan di luar terasa gaduh, hal-hal paling dasar justru sering diabaikan. Padahal makan sehat, olahraga, cukup tidur, dan memberi ruang tubuh untuk pulih punya pengaruh besar terhadap kemampuan seseorang menghadapi stres.
Perawatan diri sering terdengar sederhana, bahkan klise. Tetapi dalam situasi yang penuh tekanan, rutinitas dasar seperti ini justru menjadi penyangga yang sangat nyata.
8. Manfaatkan jaringan dukungan sosial
Hubungan sosial dapat menjadi sumber kekuatan yang sangat besar saat seseorang merasa goyah. Teman, keluarga, atau orang yang dipercaya bisa memberi rasa stabil, perspektif, dan ruang aman untuk memproses emosi.
Di tengah isu politik yang memanas, dukungan sosial membantu seseorang merasa tidak sendirian. Kadang itu yang paling dibutuhkan: bukan solusi besar, melainkan kehadiran yang membuat beban terasa lebih ringan.
Baca juga : Mengenali Tanda-tanda Gangguan Mental pada Karyawan dan Memberikan Intervensi yang Tepat
Menjaga kewarasan tanpa kehilangan kepedulian
Salah satu tantangan terbesar dalam situasi politik yang panas adalah menjaga keseimbangan. Terlalu larut dalam isu bisa melelahkan mental. Terlalu menjauh juga bisa membuat seseorang merasa terputus dari realitas sosial di sekitarnya.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan pilihan ekstrem. Bukan harus terus mengikuti setiap perkembangan, dan bukan pula harus menutup diri sepenuhnya. Yang lebih sehat adalah menemukan batas yang masuk akal. Tahu kapan perlu menyimak, tahu kapan perlu berhenti, dan tahu kapan diri sendiri sedang butuh jeda.
Kesadaran seperti ini terdengar sederhana, tetapi sangat menentukan. Sebab kesehatan mental tidak selalu runtuh karena satu peristiwa besar. Sering kali ia terkikis pelan-pelan oleh paparan yang terus-menerus dan dibiarkan tanpa pengelolaan.
Penutup
Gejolak politik bisa berdampak pada kesehatan mental karena ia tidak berhenti sebagai peristiwa publik. Ia masuk ke ruang psikologis masyarakat, memicu stres, mengganggu emosi, memperburuk kualitas hidup harian, bahkan merembet ke kesehatan fisik. Dalam kondisi tertentu, ia juga bisa menyalakan dorongan untuk bertindak secara sosial. Maka dampaknya memang rumit, tidak hitam-putih.
Yang jelas, menjaga kesehatan mental di tengah suhu politik yang memanas bukan tanda tidak peduli. Justru itu cara agar seseorang tetap punya tenaga untuk berpikir jernih, bersikap waras, dan tetap hadir sebagai warga yang sadar. Banyak hal memang tidak bisa diubah sendirian. Tetapi masih ada banyak hal yang bisa diatur, dijaga, dan dikendalikan agar diri sendiri tidak ikut hancur oleh kebisingan yang terus datang.
Di tengah derasnya tekanan informasi dan dinamika sosial yang tidak menentu, peran pemimpin menjadi semakin penting dalam menjaga stabilitas mental tim. Pemimpin yang tidak hanya fokus pada target, tetapi juga mampu memahami kondisi psikologis karyawan, akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, adaptif, dan produktif.
Melalui program Leadership Development dari Proxsis HR, organisasi dapat membekali para leader dengan kemampuan mengelola tekanan, membangun ketahanan mental tim, serta menjaga performa kerja tetap optimal di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
FAQ (Frequently Asked Questions)
- Kenapa gejolak politik bisa memengaruhi kesehatan mental?
Karena isu politik yang terus memanas dapat menjadi sumber stres. Saat seseorang terus terpapar berita negatif, kontroversi kebijakan, dan konflik publik, pikiran dan emosinya ikut terbebani. - Apa dampak stres politik yang paling sering dirasakan?
Dampak yang paling sering muncul antara lain kecemasan, emosi negatif, sulit tidur, kelelahan mental, dan penurunan kondisi psikologis sehari-hari. Pada beberapa orang, efeknya juga bisa terasa secara fisik. - Siapa yang paling rentan terdampak oleh stres politik?
Mereka yang masih muda, lebih aktif mengikuti isu politik, atau merasa berseberangan dengan pemerintah cenderung lebih rentan mengalami tekanan mental akibat situasi politik yang memanas. - Apakah mengikuti berita politik terus-menerus itu berbahaya?
Bisa, kalau tanpa batas. Terlalu sering mengonsumsi berita politik negatif dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, cemas, dan sulit menjaga stabilitas emosi. - Bagaimana cara tetap update isu politik tanpa mengganggu kesehatan mental?
Kuncinya ada pada batas yang sehat. Pilih informasi yang benar-benar perlu diikuti, kurangi paparan berlebihan, dan beri jeda saat pikiran mulai terasa penuh. - Apa langkah sederhana untuk menjaga mental di tengah situasi politik yang panas?
Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah membatasi asupan media, berlatih mindfulness, menjaga pola tidur dan makan, berolahraga, serta tetap terhubung dengan orang-orang yang suportif. - Kapan seseorang sebaiknya mencari bantuan profesional?
Saat stres politik sudah mengganggu tidur, aktivitas harian, emosi, atau membuat seseorang merasa sangat kewalahan dan tidak mampu mengatasinya sendiri, bantuan profesional sebaiknya segera dipertimbangkan.
Inquiry
News & Article
Latest Events
- Bukan Cuma Mesin! Rahasia Budaya Keselamatan Kerja Jadi Kunci Roda Bisnis Manufaktur Raksasa Tetap Ngebut
- Gara-gara Masalah Ini, PT MUM Gelar Emerging Leadership Development Program Bersama Proxsis HR!
- Leader Bootcamp YOU C1000 Jadi Titik Balik, 60 Manajer dan Supervisor Ditempa Bangun Ownership dan Dedikasi 1000 Persen
- Proxsis HR: Sinergi HR dan K3 Tekan 80 Persen Kecelakaan Akibat Perilaku Tidak Aman
- Proxsis HR Gelar Program T3 untuk Atasi Tantangan Komunikasi Karyawan di Era Digital
Recent Posts
Contact Us
Permata kuningan Building 17Th Floor, Suite 1701 Jl. Kuningan Mulia kav 9 Kawasan bisnis epicentrum Jakarta – 12980
Phone: 0813-8080-7366| 081111862876
Fax: 021-8370.8679 | 021-8370.8680
Inquiry
News & Article
Latest Events
- Bukan Cuma Mesin! Rahasia Budaya Keselamatan Kerja Jadi Kunci Roda Bisnis Manufaktur Raksasa Tetap Ngebut
- Gara-gara Masalah Ini, PT MUM Gelar Emerging Leadership Development Program Bersama Proxsis HR!
- Leader Bootcamp YOU C1000 Jadi Titik Balik, 60 Manajer dan Supervisor Ditempa Bangun Ownership dan Dedikasi 1000 Persen
- Proxsis HR: Sinergi HR dan K3 Tekan 80 Persen Kecelakaan Akibat Perilaku Tidak Aman
- Proxsis HR Gelar Program T3 untuk Atasi Tantangan Komunikasi Karyawan di Era Digital
Recent Posts
Contact Us
Permata kuningan Building 17Th Floor, Suite 1701 Jl. Kuningan Mulia kav 9 Kawasan bisnis epicentrum Jakarta – 12980
Phone: 0813-8080-7366| 081111862876
Fax: 021-8370.8679 | 021-8370.8680